
Film Ayat-ayat Cinta yang sudah lama ditunggu-tunggu apalagi yang sudah membaca novelnya itu akhirnya beredar di bioskop-bioskop. Bagi yang sudah membacanya mungkin banyak komentar pro dan kontra.
Aku maklum untuk merangkum novel yang setebal 300-an halaman menjadi film berdurasi 2 jam (skenario oleh Ginatri S. Noer & Salman Aristo) tidaklah mudah dan menjadi tantangan tersendiri sebab walaupun belum beredar namun alur ceritanya sudah diketahui khususnya yang sudah membaca novelnya.
Memang ada beberapa adegan yang sebetulnya tidak ada dalam novel AAC, tapi justru disinilah menariknya. Akhirnya setelah menonton film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini aku melihat ada beberapa hikmah yang dapat dipetik untuk dijadikan pembelajaran.
Beberapa hikmah itu antara lain :
Melindungi tamu
Kejadian di Metro (Kereta listrik, disebut juga trem) dimana saat itu ada 3 orang Amerika, yang Orang-orang Mesir memang menganggap Amerika sebagai biang kerusakan di Timur Tengah. Yang menganggap orang Islam dengan teroris. Orang-orang Mesir sangat marah pada Amerika yang mencoba mengadu domba umat Islam dengan umat Kristen Koptik. Tapi bagi Fahri yang sudah memahami agama malah membelanya. Fahri menganggapnya tamu baik-baik yang harus dihormati dan dilindungi sebaik-baiknya.
Arti sahabat
Memang di flat (kos2an) itu Fahri paling pintar dan dituakan, tapi untuk urusan tertentu ia banyak meminta saran dan pertimbangan dari sahabatnya. Sewaktu Syech Utsman meminta Fahri untuk ta ‘aruf (perkenalan) dengan wanita yg akan dikenalkan mantan muridnya Syech maka Fahri minta pendapat kepada Saiful, sahabatnya. Juga ketika kebingungan Fahri melihat sikap Nurul dan Maria yang berubah saat berjumpa setelah Fahri menikah. Apalagi saat bagaimana bersikap dengan mempunyai dua istri.Saiful memberi saran disertai kebiasaan jawaban akhirnya : “Semuanya tergantung dari imanmu… “
Adegan di film ini tidak ada dalam novel AAC
Jangan menilai orang dari luarnya.
Teman Fahri dalam sel ini memang terlihat seperti gila atau orang stress, tapi disaat Fahri sedang lemah putus asa ia malah menyadarkan. Diingatkan Fahri tentang siapa dirinya, tantang Allah yang saat itu sedang berbicara padanya, diingatkan tentang kisah Nabi Yusuf yang juga difitnah seperti dirinya, Nabi Yusuf malah berdo’a :
"Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS Yusuf 33)
Adegan di film ini tidak ada dalam novel AAC.
Kemanusiaan
Aisha istri Fahri memang seorang yang sholehah, ia malah meminta Fahri menikahi Maria yng sudah pasti Fahri menolaknya. Aisha lakukan itu demi kemanusiaan, demi hidupnya Maria yang sedang koma, demi anak yang dikandungnya yang butuh seorang ayah. Jika Maria yang sebagai saksi kunci meninggal , maka Fahri akan digantung disebabkan dituduh memperkosa.
Suatu keputusan yang berat untuk rela diduakan, tapi ditekan perasaannya semata-mata demi kemanusiaan.
Tegakkan kebenaran dalam keadaan apapun.
Ketika dirasa pembelaan Fahri sudah tipis harapan, keluarga Aisha terfikir untuk menyuap Hakim, tapi dengan tegas Fahri menolaknya dengan mengatakan bahwa selamanya kita tidak hidup didunia, pada akhirnya manusia akan mati apapun usaha keras untuk membelanya.
Sebenarnya dari kejadian inilah yang melahirkan ayat-ayat cinta, inilah kutipan dari novel tersebut ;
“Suamiku, izinkanlah aku melakukan sesuatu untukmu!” Kata Aisha
dengan mata berkaca-kaca.
“Apa itu?”
“Beberapa waktu yang lalu Magdi mengatakan harapan kau bisa
dibebaskan sangat tipis sekali. Maria masih juga koma. Mungkin hanya mukjizat yang akan menyadarkannya. Magdi berseloroh, jika punya uang untuk diberikan pada keluarga Noura dan pihak hakim mungkin kau bisa diselamatkan. Kalau kau mengizinkan aku akan bernegosiasi dengan keluarga Noura. Bagiku uang tidak ada artinya dibandingkan dengan nyawa dan keselamatanmu.”
“Maksudmu menyuap mereka?”
“Dengan sangat terpaksa. Bukan untuk membebaskan orang salah tapi
untuk membebaskan orang tidak bersalah!”
“Lebih baik aku mati daripada kau melakukan itu!”
“Terus apalagi yang bisa aku lakukan? Aku tak ingin kau mati. Aku tak
ingin kehilangan dirimu. Aku tak ingin bayi ini nanti tidak punya ayah. Aku tak ingin jadi janda. Aku tak ingin tersiksa. Apalagi yang bisa aku lakukan?”
“Dekatkan diri pada Allah! Dekatkan diri pada Allah! Dan dekatkan diri
pada Allah! Kita ini orang yang sudah tahu hukum Allah dalam menguji hamba-hamba-Nya yang beriman. Kita ini orang yang mengerti ajaran agama.
Jika kita melakukan hal itu dengan alasan terpaksa maka apa yang akan dilakukan oleh mereka, orang-orang awan yang tidak tahu apa-apa. Bisa jadi dalam keadaan kritis sekarang ini hal itu bisa jadi darurat yang diperbolehkan, tapi bukan untuk orang seperti kita, Isteriku. Orang seperti kita harus tetap teguh tidak melakukan hal itu.
Kau ingat Imam Ahmad bin Hambal yang dipenjara, dicambuk dan disiksa habis-habisan ketika teguh memegang keyakinan bahwa Al-Qur’an bukan makhluk. Al-Qur’an adalah kalam Ilahi. Ratusan ulama pergi meninggalkan Bagdad dengan alasan keadaan darurat membolehkan mereka pergi untuk menghindari siksaan.
Jika semua ulama saat itu berpikiran seperti itu, maka siapa yang akan memberi teladan kepada umat untuk teguh memegang keyakinan dan kebenaran. Maka Imam Ahmad merasa jika ikut pergi juga ia akan berdosa. Imam Ahmad tetap berada di Bagdad mempertahankan keyakinan dan kebenaran meskipun harus menghadapi siksaan yang tidak ringan bahkan bisa berujung pada kematian.
Sama dengan kita saat ini. Jika aku yang telah belajar di Al Azhar sampai merelakan isteriku menyuap maka bagaimana dengan mereka yang tidak belajar agama sama sekali. Suap menyuap adalah perbuatan yang diharamkan dengan tegas oleh Baginda Nabi.
Beliau bersabda, ‘Arraasyi wal murtasyi fin naar!’ Artinya, orang
yang menyuap dan disuap masuk neraka!
Isteriku, hidup di dunia ini bukan segalanya. Jika kita tidak bisa lama hidup bersama di dunia, maka insya Allah kehidupan akherat akan kekal abadi. Jadi, kumohon isteriku jangan kau lakukan itu! Aku tidak rela, demi Allah, aku tidak rela!”
Aisha tersedu-sedu mendengar penjelasanku. Dalam tangisnya ia berkata
dengan penuh penyesalan, “Astaghfirullah…astaghfirullaahal adhiim!” Paman Eqbal ikut sedih dan meneteskan air mata.
“Aisha isteriku, apakah kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku.
Aisha menganggukkan kepala.
“Aku juga sangat mencintaimu. Dan aku tak ingin kita yang sekarang ini
saling mencintai kelak di akhirat menjadi orang yang saling membenci dan saling memusuhi.”
“Apa maksudmu? Apakah ada dua orang yang di dunia saling mencintai di akhirat justru saling memusuhi?” tanyanya.
Jika cinta keduanya tidak berlandaskan ketakwaan kepada Allah maka
keduanya bisa saling bermusuhan kelak di akhirat. Apalagi jika cinta keduanya justru menyebabkan terjadinya perbuatan maksiat baik kecil maupun besar. Tentu kelak mereka berdua akan bertengkar di akhirat. Seseorang yang sangat mencintai kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Tak peduli pada apa pun juga. Terkadang juga tidak peduli pada pertimbangan dosa atau tidak dosa. Jika yang dilakukan adalah dosa tentu akan menyebabkan keduanya akan bermusuhan kelak di akhirat. Sebab mereka akan berseteru di hadapan pengadilan Allah Swt.
Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah Swt dalam surat Az Zuhruf ayat 67:
”Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”
Isteriku, aku tak ingin kita yang sekarang ini saling menyayangi dan saling mencintai kelak di akhirat justru menjadi musuh dan seteru. Aku ingin kelak di akhirat kita tetap menjadi sepasang kekasih yang dimuliakan oleh Allah Swt. Aku tak menginginkan yang lain kecuali itu isteriku. Hidup dan mati sudah ada ajalnya. Allahlah yang menentukan bukan keluarga Noura juga bukan hakim pengadilan itu. Jika memang kematianku ada di tiang gantungan itu bukan suatu hal yang harus ditakutkan. Beribu-ribu sebab tapi kematian adalah satu yaitu
kematian. Yang membedakan rasanya seseorang mereguk kematian adalah besarnya ridha Tuhan kepadanya. Isteriku, aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan dirimu di dunia ini dan aku lebih tak ingin kehilangan dirimu di akhirat nanti. Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh agar kita tetap bersama dan tidak kehilangan adalah bertakwa dengan sepenuh takwa kepada Allah Azza Wa Jalla.”
Tangis Aisha semakin menjadi-jadi.
“Ka...kau benar Suamiku, terima kasih kau telah mengingatkan diriku.
Sungguh beruntung aku memiliki suami seperti dirimu. Aku mencintaimu
suamiku. Aku mencintaimu karena kau adalah suamiku. Aku juga mencintaimu karena Allah Swt. Ayat yang kau baca dan kau jelaskan kandungannya adalah satu ayat cinta di antara sekian juta ayat-ayat cinta yang diwahyukan Allah kepada manusia.
Keteguhan imanmu mencintai kebenaran, ketakwaan dan kesucian dalam hidup adalah juga ayat cinta yang dianugerahkan Tuhan kepadaku dan kepada anak dalam kandunganku. Aku berjanji akan setia menempatkan cinta yang kita bina ini di dalam cahaya kerelaan-Nya.”
Banyak hikmah lain yang bisa diambil disini misalnya toleransi, menghormati wanita dan lain-lain yang belum terungkap karena keterbatasan saya.
Beruntung Fahri, lelaki sholeh yang rendah hati, berani menegakkan kebenaran, ia dikelilingi orang-orang baik. Maka sudah sepantasnya ia banyak mendapat keberkahan dalam hidupnya.
Fahri merasakan keagungan Tuhan di seluruh jiwanya. Dirasakannya Tuhan tiada pernah meninggalkan dirinya dalam segala cuaca dan keadaan.

PadaMu
Kutitipkan secuil asa
Kau berikan selaksa bahagia
PadaMu
Kuharapkan setetes embun cinta
Kau limpahkan samudera cinta.