♫Kalau kau Datang - Hatiku Senang - berbunga bunga...♫

Blog EntryGelar untuk WS RENDRAMar 5, '08 7:10 AM
for everyone

 

 

PENYAIR yang terkenal dengan sebutan si "Burung Merak" WS Rendra, Selasa (4/3) menyampaikan orasinya berjudul "Megatruh Kambuh, Renungan Seorang Penyair Dalam Menanggapi Kalabendu" di hadapan civitas akademika UGM, dan sejumlah tokoh sastra di Balai Senat UGM dalam rangka penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (Dr HC).

 

Rendra sendiri mengaku gelar doktor dari UGM ini merupakan kebanggaan tersendiri buatnya saat usianya sudah menginjak 73 tahun. "Saya tidak akan mengajar, karena tidak bisa. Kalau mengajar mahasiswinya nanti malah saya pacari," kata Rendra sambil berkelakar.

Salah satu promotornya, Prof Dr Siti Chamamah Soeratno mengatakan, meski Rendra tidak menyelesaikan studinya di Jurusan Sastra Inggris FIB pada tahun 1960-an, karya-karyanya sangat mewarnai perkembangan dunia seni dan sastra
Indonesia
.

"Rendra punya konsistensi dengan apa yang gelutinya dan selalu menghasilkan karya-karya besar. Dia memang layak menerima gelar," kata Chamamah. (Dikutip dari Suara Pembaruan)

 

Penghargaan

 

Willibrodus Surendra Broto yang kemudian dikenal dengan nama WS Rendra pernah kuliah di Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, namun tidak sampai tamat.

Meski tak sampai lulus dari UGM, Rendra melanjutkan pendidikan di American Academy of Dramatics Arts di New York tahun 1967, dan kemudian dia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta.

Sebelumnya pada 1964, suami Ken Zuraida ini mengikuti seminar internasional di Harvard, AS. Dan pada 1971 dan 1979 mengikuti Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Sajak-sajaknya pernah dibacakan di sejumlah kota besar dunia seperti di Amsterdam, Berlin, Koln, Hamburg, Melbourne, Sidney, New York, Moskow dan Leiden.

 

Karya drama WS Rendra berjudul Orang-Orang di Tikungan Jalan meraih Hadiah Pertama Sayembara Drama Bagian Kesenian Kementrian P dan K, Yogyakarta, tahun 1954. Pada tahun yang sama ia pergi ke Moskow, Rusia. Tahun 1956 cerpennya mendapat hadiah dari majalah Kisah. Tahun 1957 mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN untuk kumpulan sajak Ballada Orang-Orang Tercinta (1957).

 

Sastrawan ini juga meraih berbagai penghargaan antara lain Hadiah Sastra Horison (1968), hadiah Pertama dari Yayasan Buku Utama Departemen P dan K untuk bukunya ''Tentang Bermain Drama'' (1976), Anugerah Seni dari Pemerintah RI atas karya ''Drama Mini Kata'' (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1974). Rendra juga pernah mendapatkan Habibie Awards untuk perannya dalam dunia sastra dan budaya.

 

Sedangkan karya-karya monumentalnya antara lain ''Empat Kumpulan Sajak'' (1961, 1978), ''Ia Sudah Berpulang'' (1963), ''Blues untuk Bonnie'' (1971), ''Sajak-Sajak Sepatu Tua'' (1972), ''Potret Pembangunan dalam Puisi'' (1980). Kumpukan sajaknya terdiri atas ''Orang-orang dari Rangkasbitung'', ''Mencari Bapa'', ''Penabur Benih''.

 

Sajak-sajaknya telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa, antara lain Ingris, Belanda, Prancis, Jepang, dan Rusia. Rendra juga menerjemahkan drama-drama monumental ke dalam bahasa Indonesia, seperti Sophokles Oedipus Sang Raja (1976), Oedipus di Kolonus (1976), dan Antigone (1976). Selain itu juga melahirkan karya saduran; Perampok, dan Kereta Kencana.

Antara April-Oktober 1978, dia ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Kumpulan puisi Rendra seperti Balada Orang Tercinta (1956), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), Mencari Bapak (1997) sarat dengan kritik sosial.

 

Kesaksian

 

" ... aku mendengar suara
jerit hewan yang terluka
ada orang memanah rembulan
ada anak burung jatuh dari sangkarnya.

 

orang-orang harus dibangunkan
kesaksian harus diberikan
agar kehidupan dapat terjaga .."

 

Ya, puisi itu adalah janin dari lagu Kesaksian yang dibawakan oleh Kantata Takwa. Aku menganggap lagu kesaksian sebagai salah satu lagu ’wajib’ dalam setiap konser Kantata.

 

Teringat waktu ditayangkan televisi ketika tahun 1998 besama tokoh2 reformasi menekan ketua MPR agar segera menghentikan presiden yang berkuasa saat itu. Dengan lantang dihadapan ketua MPR (Harmoko) berisi kecaman dan harapan.

 

Kini kita dapat menyaksikan Mas Willy di Film layar lebar dengan judul Lari dari Blora sebagai Si mbah, seorang tokoh masyarakat dari desa Samin di Blora.

 

Semoga ini sebagai obat kerinduan kita kepada beliau, seperti halnya kerinduan bang Iwan Fals akan sepakterjang gurunya tersebut yang tertuang dalam lagu "Willy" :

 

Si mata elang dari Jogjakarta
Resahkah kamu
Kurindu sorot matamu
Yang tajam belah malam

Dimana runcing kokoh paruhmu
Tetapkah angkuhmu hadang keruh

 

 


damuhbening wrote on Mar 5
LAYAK!!! dan kita bangga memiliki orang seperti dia.

Untuk lagunya bang Iwan memang keren banget dalam menggambarkan sosok Rendra, aku suka banget dengan lagu itu, termasuk kesaksian...wuih mantabbbb...
jumatmalam wrote on Mar 5
Setuju bli!!.... Apalagi kalau sudah menyanyikan lagu Kesaksian bersama-sama wuiiiiiiih seakan-akan pengen keluar semua tumpahan hati .......
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.